DEFENISI TANAH DAN BATUAN

Posted: Januari 25, 2013 in Uncategorized

DEFENISI TANAH (SOIL)
Tanah (soil) adalah suatu hasil pelapukan biologi (Selley, 1988), dimana komposisinya terdiri atas komponen batuan dan humus yang umumnya berasal dari tetumbuhan.
Menurut beberapa ahli pengertian tanah sebagai berikut.
Menurut Ahli Geologi
Ahli geologi akhir abad XIX mendefinisikan tanah sebagai lapisan permukaan bumi yang berasal dari bebatuan yang telah mengalami serangkaian pelapukan oleh gaya-gaya alam, sehingga membentuk regolit yaitu lapisan partikel halus yang disusun oleh fragmen batuan dan mineral hasil dari proses pelapukan. Tanah merupakan kombinasi antara mineral dan material organik, air dan udara. Sekitar setengah dari volume tanah yang baik merupakan campuran antara hasil disintegrasi, dekomposisi dan humus, yang merupakan rombakan sisa-sisa organisme, sedangkan setengahnya lagi merupakan pori-pori tempat sirkulasi air dan udara.
Menurut Kamus Umum
Tanah adalah lapisan permukaan tanah yang gembur, seperti halnya lahan, debu dengan bumi.
Menurut Ensiklopedi Indonesia
Tanah adalah campuran bagian – bagian batuan dengan material serta bahan organik yang merupakan sisa kehidupan yang timbul pada permukaan bumi akibat erosi dan pelapukan karena proses waktu.
Menurut Ahli Geomofologi (THOMBURY)
Tanahadalah bagian dari permukaan bumi yang ditandai oleh lapisan yang sejajar dengan permukaan bumi, sebagai modifikasi oleh proses-proses fisik, kimiawi, maupun biologis yang bekerja dibawah kondisi bermacam-macam yang bekerja selama periode tertentu.
Menurut FREDRICH FALLON
Tanah merupakan lapisan bumi teratas yang terbentuk dari batuan yang telah lapuk.

Menurut Ahli Fisika Bumi (AD. THAER 1906 )
Tanah adalah bahan- banhan yang remah dan lepas-lepas yang merupakan akumulasi berbagai bahan terutama terdiri atas unsur- unsur Si, Ca, Al, Mg, dan unsur-unsur lainya.
MenurutLiebeg Minimum Law (Justus von Liebeg,Germany, 1840)
Tempat cadangan hara yang setiap saatdapat diserap tanaman, yang harusdigantikan dengan menggunakanpupuk (kandang dan kimia) serta kapur
MenurutE.W. Hilgard (1860)
Tubuh alam yang bersifat dinamis yangharus dipelajari dan dibuatklasifikasinya
MenurutJoffee (1917)
bangunan alami yang tersusun atashorizon-horizon yang terdiri atasbahan mineral, organik, bersifat padudan mempunyai tebal yang sama

Menurut Marbut (ahli tanah Amerika Serikat)
Tanah adalah bagian terluar dari kulit bumi yang biasanya dalam keadaan lepas – lepas, lapisannya bisa sangat tipis dan bisa sangat tebal, perbedaannya dengan lapisan di bawahnya adalah hal warna, struktur, sifat fisik, sifat biologis, komposisi kimia, proses kimia dan morfologinya.
Menurut Hilgard (ahli tanah dari Amerika)
Tanah adalah material lepas – lepas dan agak kering yang dipakai untuk tempat akar tanaman dalam mencari makanan dan sarana pertumbuhan tanaman.
Menurut Dokuchaev
Tanah adalah lapisan permukaan bumi yang berasal dari material induk yang telah mengalami proses lanjut, karena perubahan alami dibawah pengaruh air, udara, dan macam – macam organisme baik yang masih hidup maupun yang telah mati. Tingkat perubahan terlihat pada komposisi, struktur dan warna hasil pelapukan.
Menurut Ramann
Tanah adalah lapisan terluar dari bumi yang padat yang terdiri dari campuran material batuan dengan sisa – sisa bahan organik.

Menurut Jafee
Tanah adalah benda alam yang berlapis – lapis yang disusun dari mineral dan bahan organik, biasanya dalam keadaan lepas – lepas pada kedalaman yang macam – macam, morfologinya berbeda dengan material induknya yang terletak di bawahnya, berbeda – beda dengan sifat dan susunannya, sifat kimia, komposisi, dan sifat biologisnya.

DEFINISI BATUAN
Batuan (Rocks) adalah bahan padat bentukan alam yang umumnya tersusun oleh kumpulan atau kombinasi dari satu macam mineral atau lebih.
Berbagai definisi dari batuan sebagai objek dari mekanika batuan telah diberikan oleh para ahli dari berbagai disiplin ilmu yang saling berhubungan
Menurut Para Geologiwan
Batuan adalah susunan mineral dan bahan organis yang bersatu membentuk kulit bumi.
Batuan adalah semua material yang membentuk kulit bumi yang dibagi atas :
– batuan yang terkonsolidasi (consolidated rock),
– batuan yang tidak terkonsolidasi (unconsolidated rock).
Menurut Para Ahli Teknik Sipil Khususnya Ahli Geoteknik
Istilah batuan hanya untuk formasi yang keras dan padat dari kulit bumi.
Batuan adalah suatu bahan yang keras dan koheren atau yang telah terkonsolidasi dan tidak dapat digali dengan cara biasa, misalnya dengan cangkul dan belincong.
Menurut Talobre
Menurut Talobre, orang yang pertama kali memperkenalkan Mekanika Batuan di Perancis pada tahun 1948, batuan adalah material yang membentuk kulit bumi termasuk fluida yang berada didalamnya (seperti air, minyak dan lain-lain).
Menurut Astm
Batuan adalah suatu bahan yang terdiri dari mineral padat (solid) berupa massa yang berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen.
Secara Umum
Batuan adalah campuran dari satu atau lebih mineral yang berbeda, tidak mempunyai komposisi kimia tetap.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa batuan tidak sama dengan tanah. Tanah dikenal sebagai material yang “mobile“, rapuh dan letaknya dekat dengan permukaan bumi.

DEFINISI MEKANIKA BATUAN
Definisi Mekanika Batuan telah diberikan oleh beberapa ahli atau komisi-komisi yang bergerak di bidang ilmu¬-ilmu tersebut.
Menurut Talobre
Mekanika batuan adalah sebuah teknik dan juga sains yang tujuannya adalah mempelajari perilaku (behaviour) batuan di tempat asalnya untuk dapat mengendalikan pekerjaan-pekerjaan yang dibuat pada batuan tersebut (seperti penggalian dibawah tanah dan lain-lainnya).
Untuk mencapai tujuan tersebut, Mekanika Batuan merupakan gabungan dari:
Teori + pengalaman + pekerjaan/pengujian di laboratorium + pengujian in-situ.
sehingga mekanika batuan tidak sama dengan ilmu geologi yang didefinisikan oleh Talobre sebagai sains deskriptif yang mengidentifikasi batuan dan mempelajari sejarah dari batuan.
Demikian juga mekanika batuan tidak sama dengan ilmu geologi terapan. Ilmu geologi terapan banyak mengemukakan problem-problem yang paling sering dihadapi oleh para geologiwan di proyek-proyek seperti proyek bendungan, terowongan. Dengan mencari analogi-analogi, terutama dari proyek-proyek yang sudah dikerjakan dapat menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi pada proyek yang sedang dikerjakan. Meskipun penyelesaian ini masih secara empiris dan kualitatif.
Menurut Coates
Menurut Coates, seorang ahli mekanika batuan dari Kanada :
Mekanika adalah ilmu yang mempelajari efek dari gaya atau tekanan pada sebuah benda.
Efek ini bermacam-macam, misalnya percepatan, kecepatan, perpindahan.
Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari efek dari pada gaya terhadap batuan.
Efek utama yang menarik bagi para geologiwan adalah perubahan bentuk.Para ahli geofisika tertarik pada aspek dinamis dari pada perubahan volume dan bentuk yaitu gelombang seismik.
Bagi para insinyur, mekanika batuan adalah :
– analisis dari pada beban atau gaya yang dikenakan pada batuan,
– analisis dari dampak dalam yang dinyatakan dalam tegangan (stress), regangan (strain) atau enersi yang disimpan,
– analisis akibat dari dampak dalam tersebut, yaitu rekahan (fracture), aliran atau deformasi dari batuan.
Menurut Us National Committee On Rock Mechanics (1984)
Mekanika batuan adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang perilaku ( behavior ) batuan baik secara teoritis maupun terapan, merupakan cabang dari ilmu mekanika yang berkenaan dengan sikap batuan terhadap medan – medan gaya pada lingkungannya.
Menurut Budavari
Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari mekanika perpindahan padatan untuk menentukan distribusi gaya-gaya dalam dan deformasi akibat gaya luar pada suatu benda padat. Hampir semua mekanika perpindahan benda padat didasarkan atas teori kontinum. Konsep kontinum adalaf fiksi matematik yang tergantung pada struktur molekul material yang digantikan oleh suatu bidang kontinum yang perilaku matematiknya identik dengan media aslinya.
Material ekivalennya dianggap homogen, mempunyai sifat-sifat mekanik yang sama pada semua titik. Penyederhanaannya adalah bahwa semua sifat mekaniknya sama ke semua arah pada suatu titik di dalam suatu batuan
Menurut Hudson Dan Harrison
Mekanika batuan adalah ilmu yang mempelajari reaksi batuan yang apabila padanya dikenai suatu gangguan. Dalam hal material alam, ilmu ini berlaku untuk masalah deformasi suatu struktur geologi, seperti bagaimana lipatan, patahan, dan rekahan berkembang begitu tegangan terjadi pada batuan selama proses geologi.
Beberapa tipe rekayasa yang melibatkan mekanika batuan adalah pekerjaan sipil, tambang, dan perminyakan.
Topik utama mekanika batuan adalah batuan utuh, struktur batuan, tegangan, aliran air, dan rekayasa, yang ditulis secara diagonal dari kiri atas ke kanan bawah pada Gambar 1. Garis ini sering disebut sebagai diagonal utama. Semua kotak lainnya menunjukkan interaksi antara satu dengan lainnya.

Teori Pembentukan Laut:

Posted: Januari 21, 2013 in Kampus

Proses pembentukan lautan berdasarkan teori laplace ( kabut)
Proses terbentuknya laut berawal dari proses pembentukan bumi dimana, menurut laplace, bumi terbentuk 4 miliar tahun yang lalu, karen pembentukan bumi berawal dari pengerutan matahari yang mengakibatkan, bagian dari matahari terlepas, sehingga terlempar keluar dan saling tabrakan, akhirnya terbentuklah planet, salah satunya planet bumi, karena pada saat itu gravitasi bumi sangat kuat sehingga menarik asteroid, sehingga terjadi tabrakan. dengan adanya tabrakan yang cukup banyak dan dashyat, akhirnya terbentuklah kawah kawah, dari kawah itulah mulai terbentuk lautan, di mana pada awalnya, karena bumi di selimuti oleh kabut sehingga bumi mengalami pembekuan, setelah tak lama kemudian debu yang menyelimuti bumi menghilang dan sinar matahri dapat tembus, mengakibatkan terjadinya kondensasi uap air yang ada, dan mulai turun hujan, hujan yang berlalu sangat lama ini mengakibatkan kawah yang terbentuk tadi terisi oleh air
Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut semakin asin.
Proses pembentukan lautan berdasarkan komet es
Bahwa Bumi terbentuk dengan sedikit sekali air, atau tanpa air sama sekali. Air di Bumi berasal dari komet yang menghujani bumi pada saat awal pembentukan dan dari beberapa asteroid yang mengandung air (hydrous asteroids). Hujan kosmik terus turun hingga saat ini, mengandung 20-40 ton komet es yang menghujani Bumi tiap 3 detik. Komet ini menambahkan 1 ince air dipermukaan bumi tiap 20.000 tahun. Ketika atmosfir dipenuhi air, hujan mulai turun. Dengan selang waktu yang lama dan badai besar menimbulkan banjir terbesar di bumi, lautan tak bertepi terbentuk. Saat langit akhirnya cerah, Bumi berubah menjadi bola dunia penuh air dan disaat itulah diperkirakan kehidupan mulai terjadi.

Teori Apungan Benua
Saat perkembangan pembuatan peta dunia pada awal tahun 1900-an, seorang ahli meteorologi dari Jerman, Alfred Wegener mengemukakan sebuah hipotesis tentang Apungan Benua (Hypothesis of Continental Drift). Dia mengemukakan bahwa dulunya ada sebuah super-kontinen, disebut Pangaea, yang pecah jutaan tahun yang lalu, kemudian benua-benua pecahannya perlahan bergerak menuju posisinya saat ini dan masih terus bergerak perlahan.
Bukti pertama yang diajukan oleh Wegener adalah adanya kesamaan garis pantai antara Benua Amerika Selatan dengan Benua Afrika. Apabila kedua benua tersebut disatukan, maka garis pantainya akan serasi satu sama lain. Kemudian ia juga mengajukan bukti dokumentasi fosil Mesosaurus yang sejenis dan hanya ditemukan di kedua sisi benua tersebut. Diyakini bahwa Mesosaurus ini ketika hidupnya tidak akan dapat melintasi samudera yang luas di antara kedua benua ini.
Sisa-sisa organisme yang ditemukan tampaknya menjadi bukti menyatunya dua benua ini selama Masa Paleozoikum dan Awal Mesozoikum. Lihat gambar di bawah ini.
Bukti selanjutnya, jajaran pegunungan yang terpotong oleh samudera. Gambar di bawah menunjukkan jajaran pegunungan pada kedua sisi Samudera Atlantik. Pegunungan Appalachia yang terpotong oleh pantai Newfoundland serupa dengan jajaran pegunungan di Kepulauan Inggris dan Scandinavia dalam hal struktur dan juga umurnya.
Bukti terakhir yang diajukan oleh Wegener, untuk mendukung hipotesisnya, adalah iklim masa lampau (ancient climates). Ketika benua-benua disusun menjadi satu untuk membentuk Pangaea, sisa dari material glasial menyatu membentuk pola seperti hamparan es yang menutupi kutub bumi kita hari ini. Lihat gambar di bawah ini.

Pergeseran Benua
Hipotesis Pergeseran Benua (bahasa Inggris: continental drift) merupakan gagasan yang dituangkan Alfred L. Wegener pada hipotesisnya yang dituangkan dalam buku berjudul The Origin of Continent and Oceans (1912). Isinya, benua tersusun dari batuan sial yang terapung pada batuan sima yang lebih besar berat jenisnya. Pergerakan benua itu menuju khatulistiwa dan juga ke arah barat.
Hipotesis utamanya adalah di bumi pernah ada satu benua raksasa yang disebut Pangaea (artinya “semua daratan”) yang dikelilingi oleh Panthalassa (“semua lautan”). Selanjutnya, 200 juta tahun yang lalu Pangaea pecah menjadi benua-benua yang lebih kecil yang kemudian bergerak menuju ke tempatnya seperti yang dijumpai saat ini.
Beberapa ilmuwan dapat menerima konsep ini namun sebagian besar lainnya tidak dapat membayangkan bagaimana satu massa benua yang besar dapat mengapung di atas bumi yang padat dan mengapa ini terjadi. Pemahaman para ilmuwan pengkritik adalah bahwa gaya yang bekerja pada bumi adalah gaya vertikal. Tidaklah mungkin gaya vertikal ini mampu menyebabkan benua yang besar tersebut pecah. Pada masa itu belum dijumpai bukti-bukti yang meyakinkan. Wegener mengumpulkan bukti lainnya berupa kesamaan garis pantai, persamaaan fosil, struktur dan batuan. Namun, tetap saja usaha Wegener sia-sia karena Wagener tidak mampu menjelaskan dan meyakinkan para ahli bahwa gaya utama yang bekerja adalah gaya lateral bukan gaya vertikal.
TEORI KONVEKSI
(CONVECTION THEORY)
HARRY H. HESS (1962) DALAM BUKUNYA: HISTORY OF THE OCEAN BASIN.
Aliran konveksi di dalam lapisan astenosfer yang kental, dimana pengaruhnya sampei ke kerak bumi di atasnya, menyebabkan batuan kerak bumi menjadi lunak. Gerak aliran ini menyebabkan permukaan bumi menjadi tidak rata, aliran konveksi yang sampai ke permukaan bumi di Mid Oceanic Ridge. Di puncak Mid Oceanic Ridge lava mengalir terus dari dalam kemudian tersebar kedua sisinya dan membentuk kerak bumi baru.
TEORI PERGESERAN DASAR LAUT
ROBERT DIESZ MENGEMBANGKAN HIPOTESA HESS
Perkembangan penelitian topografi dasar laut membuktikan terjadinya pergeseran dasar laut dari arah punggungan dasar laut kedua sisinya, dimana makin jauh dari punggung dasar laut makin tua umurnya. Adanya gerakan yang arahnya dari punggung dasar laut dapat dilihat dari contoh sebagai berikut: MID ATLANTIC RIDGE, EAST PASIFIC RISE, ATLANTIC INDIAN RIDGE, PASIFIC ATLANTIC RIDGE, MID OCEAN RIDGE ATAU PENAMPANG TENGAH SAMUDRA

Teori Tektonik Lempeng
Sepanjang tahun 1960-an, banyak penemuan teknologi yang kemudian mendorong revisi Hipotesis Apungan Benua ini menjadi Teori Tektonik Lempeng (Plate Tectonic Theory). Pada teori ini, dijelaskan bahwa permukaan bumi dibentuk oleh kepingan-kepingan litosfer, yaitu lapisan padat dari kerak bumi dan mantel bumi bagian atas, yang mengapung di atas astenosfer. Astenosfer adalah lapisan plastis di bawah litosfer yang memiliki sifat seperti fluid yang dapat mengalir.

Masing-masing kepingan litosfer ini disebut lempeng. Gambar di atas ini menunjukkan batas-batas utama lempeng tektonik dan bagaimana mereka saling berinteraksi satu sama lain. Gambar di samping menunjukkan pergerakan relatif dan kenampakan yang berasosiasi dengan tiga tipe batas lempeng.

Daerah timurlaut Afrika adalah contoh yang bagus untuk batas divergen. Disini, magma yang keluar merekahkan lempeng litosfer. Ketika rekah pada litosfer semakin melebar, batuan di atasnya runtuh dan membentuk zona rekahan. Semakin melebar dan membentuk laut yang dangkal, seperti Laut Merah.
Kemudian gambar dibawah ini adalah contoh yang bagus bagi benturan antar lempeng benua. Benturan yang terus berlangsung antara India dan Asia, yang dimulai sejak 45 juta tahun yang lalu, membentuk Pegunungan Himalaya.
Apabila benturan yang terjadi antara sesama lempeng benua akan membentuk busur kepulauan vulkanik. Sedangkan bila benturan yang terjadi antara lempeng benua dan lempeng samudera, akan membentuk busur pegunungan vulkanik pada lempeng benua.
Sesar geser Mendonico yang menghubungkan zona penunjaman dan zona pemekaran menyebabkan landas samudera yang dihasilkan di pematang lempeng Juan De Fuca bergerak relatif ke selatan dan menyusup di bawah Lempeng Amerika Utara.

ENDAPAN MINERAL

Posted: Januari 21, 2013 in Uncategorized

1. Yang dimaksud dengan:
a. Ore adalah endapan bahan galian yang dapat diekstrak (diambil) mineral berharganya secara ekonomis baik itu logam maupun bukan logam. Bijih diekstraksi melalui penambangan, kemudian hasilnya dimurnikan lagi untuk mendapatkan unsur-unsur yang bernilai ekonomis.
b. Gangue Minerals adalah mineral non logam yang bisa dimanfaatkan sebagai hasil sampingan misalnya kuarsa, garnet, dll dalam jumlah yang cukup
c. By product: adalah produk sekunder atau insidentil yang berasal dari proses manufaktur, suatu reaksi kimia atau jalur biokimia, dan bukan produk utama atau jasa yang dihasilkan. By product dapat bermanfaat dan berharga, atau dapat dianggap limbah. Air juga bisa menjadi produk sampingan ketika reaksi menyebabkan karbon dioksida.
d. Metallic minerals adalah Mineral yang mengandung satu jenis logam. Apabila kandungan logamnya relative besar dan terikat secara kimia dengan unsur lain disebut mineral bijih (ore-minerals). Sebagian besar mineral bijih bersifat logam dan sebagian bersifat non logam (bauksit).. Mineral logam dibagi menjadi dua, yaitu logam murni dan logam campuran. Logam murni digunakan dalam kondisi murni tanpa campuran. Contoh logam murni adalah emas, timah, seng, dan aluminium. Biasanya kaleng minuman menggunakan aluminium murni. Sementara kabel listrik terbuat dari tembaga murni.
e. Waste Minerals adalah mineral non logam yang tidak ekonomis
2. Mineral bijih adalah Batu yang mengandung satu atau lebih mineral metalik yang untung jika ditambang.. Suatu endapan dikatakan bijih sebenarnya dilihat dari nilai ekonomisnya, bila harga pengolahan dan harga pasaran berfluktuasi, suatu saat endapan mineral dikatakan sebagai bijih dan di saat lain bukan lagi. Pada saat ekstraksi didapatkan bahan logam dan juga bahan limbah (gangue) yang tidak memiliki nilai ekonomis. Proses ekstraksi tersebut menghasilkan timbunan limbah (tailing).

Pembagian kelompok mineral bijih:
a. Bijih Silisius (Keiko) yang mengandung sulfiIda terutama kalkopirit, terdesssiminasi dalam batuan tersilisifikasi.
b. Bijih Kuning (Oko), terutama pirit dengan sedikit kalkopirit dan Kuarsa.
c. Bijih hitam (Kuroko), percampuran kuat antara Sphalerite kaya besi berwarna gelap, galena, barite, dan sejumlah kecil pirit dan kalkopirit ; wurzit, enargit, tetrahidrit, markasit, serta sejumlah mineral lainnya yang ditemukan secara setempat dalam jumlah kecil.
d. Urat (vein) dan massa besar gipsum (sekkoko), yang saling berhubungan tetapi dalam tubuh yang terpisah- pisah.
e. Zona stringer, kaya kalkopirit dalam pipa- pipa bawah bijih (ryukoko)
f. Ferruginous (lapisan tetsusekiei), yang berada pada lapisan paling bawah.

4. Tipe-tipe endapan yang terbentuk secara sekunder
Proses pembentukan endapan ini sangat di dominasi oleh media air permukaan, sehingga jejak-jejak pembentukannya seperti adanya struktur perlapisan, dan nodul menggambarkan manifestasi tersebut.
Tipe endapan ini terbagi atas:
a. Mineral Bijih Dibentuk oleh Hasil Rombakan dan Proses Kimia Sebagai Hasil Pelapukan Permukaan dan Transportasi
Secara normal material bumi tidak dapat mempertahankan keberadaanya dan akan mengalami transportasi geokimia yaitu terdistribusi kembali dan bercampur dengan material lain. Proses dimana unsur-unsur berpindah menuju lokasi dan lingkungan geokimia yang baru dinamakan dispersi geokimia. Berbeda dengan dispersi mekanis, dispersi kimia mencoba mengenal secara kimia penyebab suatu dispers. Dispersi geokimia sekunder adalah dispersi kimia yang terjadi di permukaan bumi, meliputi pendistribusian kembali pola-pola dispersi primer oleh proses yang biasanya terjadi di permukaan, antara lain proses pelapukan, transportasi, dan pengendapan. Bahan terangkut pada proses sedimentasi dapat berupa partikel atau ion dan akhirnya diendapkan pada suatu tempat.
b. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Pelapukan Mekanik
Mineral disini terbentuk oleh konsentrasi mekanik dari mineral bijih dan pemecahan dari residu. Proses pemilahan yang mana menyangkut pengendapan tergantung oleh besar butir dan berat jenis disebut sebagai endapan plaser. Mineral plaser terpenting adalah Pt, Au, kasiterit, magnetit, monasit, ilmenit, zirkon, intan, garnet, tantalum, rutil, dsb
c. Cebakan Mineral Dibentuk oleh Proses Pengendapan Kimia
• Lingkungan Darat
Batuan klastik yang terbentuk pada iklim kering dicirikan oleh warna merah akibat oksidasi Fe dan umumnya dalam literatur disebut “ red beds”. Kalau konsentrasi elemen logam dekat permukaan tanah atau di bawah tanah tempat pengendapan tinggi memungkinkan terjadi konsentrasi larutan logam dan mengalami pencucian (leaching/pelindian) meresap bersama air tanah yang kemudian mengisi antar butir sedimen klastik. Koloid bijih akan alih tempat oleh penukaran kation antara Fe dan mineral lempung atau akibat penyerapan oleh mineral lempung itu sendiri.
• Lingkungan Laut
Kejadian cebakan mieral di lingkungan laut sangat berbeda dengan lingkungan darat yang umumnya mempunyai mempunyai pasokan air dengan kadar elemen yang tinggi dibandingkan kandungan di laut. Kadar air laut mempunai elemen yang rendah. Sebagai contoh kadar air laut untuk Fe 2 x 10-7 % yag membentuk konsentrasi mineral logam yang berharga hal ini dapat terjadi kalau mempunyai keadaan yang khusus
5. Tipe endapan yang terbentuk karena aktivitas vulkanik
Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan endapan mineral baik logam maupun non logam. Endapan tersebut terbentuk karena proses sublimasi gas atau uap yang dikeluarkan oleh aktivitas vulkanik. Air tanah dan air meteoric disekitar daerah vulkanik juga dapat menghasilkan endapan mineral tertentu. Contoh mineral : belerang, fosfor, dan mineral logam Pb, Zn, Bi, Fe.

Disamping menghasilkan mineral, aktivitas vulkanik juga menghasilkan panas bumi yang dimanfaatkan untuk energi panas bumi (geothermal energy).

6. Tipe endapan yang berasosiasi dengan batuan intrusi dan tipe endapan
Deposit Kuroko merupakan salah satu wakil dari deposit sulfida volcanogenic besar di dunia. Hal ini ditandai oleh logam simpanan kelas dasar yang tinggi untuk mengandung cukup jumlah emas dan perak. Deposito tersebut telah dieksplorasi sebagai sumber utama logam mulia dan logam mulia di dunia.
Dalam kasus Jepang, hampir semua deposito dihasilkan dalam berumur Miosen sehingga ada banyak. contoh dan unmetamorphosed pelat badan kaku.Kuroko mengacu pada model endapan yang terdapat di salah satu distrik yang terdapat di Jepang bagian Utara yang mengandung kumpulan dari karakteristik horizon bijih dalam suatu tatanan geologi khusus
7. Klasifikasi Endapan Mineral
a. Beck, 1904
• Primary
 Syngenetic
 Magmatic segregations
 Sedimentary ore
 Epigenetic
 Vein
 epigenetic deposits not vein
• Secondary
 Residual
 Placers

b. Irving, 1908
• Bedrock deposits
 Syngenetic
 Iqneous
 Sedimentary
 Epigenetic
 cavity fillings
 replacement
 contact-metamorphic deposits
• Disintegration deposits
 Mechanical
 Mechanical

8. Karakteristik dan tipe endapan di Sangkaropi
a. Bijih hitam (Kuroko) percampuran kuat antara Sphalerite kaya besi berwarna gelap, galena, barite, dan sejumlah kecil pirit dan kalkopirit ; wurzit, enargit, tetrahidrit, markasit, serta sejumlah mineral lainnya yang ditemukan secara setempat dalam jumlah kecil
b. Urat (vein) dan massa besar gipsum (sekkoko) yang saling berhubungan tetapi dalam tubuh yang terpisah- pisah.

Perlombaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) dengan ketentuan perlombaan sebagai berikut :
SYARAT UMUM PESERTA
1. Peserta adalah siswa SD/MI yang terdaftar sebagai peserta didik tahun pelajaran 2012/2013.
2. Peserta diwajibkan memakai baju seragam sekolah.
3. Peserta merupakan regu yang terdiri dari 3 siswa yang masih duduk di kelas 4, 5, atau 6 SD.
HAK DAN KEWAJIBAN PESERTA
Hak Peserta :
1. Peserta dapat didampingi oleh satu orang pengamat/pembimbing.
2. Peserta mendapat piagam penghargaan.
Kewajiban Peserta :
1. Peserta wajib datang tepat waktu.
2. Peserta mentaati peraturan lomba.
TEMPAT LOMBA
SD Inpres Lonrong
MEKANISME LOMBA CERDAS CERMAT (LCC)
Setiap regu yang mengikuti Lomba Cerdas Cermat terdiri dari tiga orang peserta.
Adapun prosedur pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat sebagai berikut :
1. Tiap regu wajib melakukanr registrasi/daftar ulang sebelum perlombaan dimulai.
2. Peserta memasuki ruang untuk persiapan acara perlombaan.
3. Sistem penilaian mutlak berada di tangan dewan juri.
4. Pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat sendiri terbagi atas empat babak yakni :
a. Babak Penyisihan I
Pada babak ini masing-masing peserta mengerjakan 20 soal tertulis berupa pilihan ganda. Untuk setiap jawaban benar bernilai 10, salah bernilai 0 dan kosong bernilai 0. Selanjutnya nilai masing-masing peserta akan diakumulasikan dalam regu masing-masing.

b. Babak Penyisihan II
Babak penyisihan, diberikan 10 soal secara rebutan dan dapat dilempar ke tim lain. Untuk setiap jawaban benar bernilai 100 , salah bernilai -50. Selanjutnya nilai masing-masing peserta akan diakumulasikan dalam regu masing-masing. 3 tim dengan nilai tertinggi darii babak penyisihan I dan II akan maju ke babak final
c. Babak Final
Pada babak final 3 regu terbaik dari babak penysihan akan beradu kecerdasan, kecermatan dan kecepatan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dewan juri. Pertanyaan terbagi atas 3 sesi :
i. Pertanyaan wajib sebanyak 5 soal tiap regu, tiap jawaban benar mendapat 100 poin, salah 0 poin.
ii. Pertanyaan lemparan sebanyak 5 soal tiap regu, tiap jawaban benar mendapat 100 poin, salah dikurangi 50 poin. Soal akan dibacakan 2 kali. Peserta diberi toleransi waktu 30 detik untuk menjawab soal. Jika peserta tidak bisa menjawab, maka pertanyaan akan dilempar ke regu selanjutnya dengan toleransi waktu 10 detik.
iii. Pertanyaan rebutan sebanyak 10 soal, nilai pada babak ini bertingkat antara 10 sampai 100 poin. Peserta diberi toleransi waktu 30 detik untuk menjawab soal. Jika jawaban salah, maka nilai akan dikurangi setengah dari poin soal.
Nilai dari sesi pertanyaan wajib, lemparan dan rebutan akan diakumulasikan untuk menentukan juara I, II, dan III.
Materi Soal Lomba Cerdas Cermat
Materi Lomba Cerdas Cermat meliputi mata pelajaran SD/MI yakni PKn, Matematika, IPS, IPA, Bahasa Indonesia
PENGUMUMAN DAN HADIAH
Pengumuman sekaligus penyerahan hadiah akan dilaksanakan di akhir acara.

Galeri  —  Posted: Oktober 19, 2012 in Uncategorized

GENESA BATUBARA

Posted: Oktober 19, 2012 in Uncategorized

Berdasarkan pendekatan praktis, maka pembentukan batubara, dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu sebagai berikut:

  1. Letak geografi (paleogeografi), dan iklim
  2. Perkembangan dan pertumbuhan vegetasi
  3. Perkembangan tempat akumulasi vegetasi
  4. Distribusi lateral dan vertikal akumulasi vegetasi
  5. Pengaruh struktur deformasi tektonik
  6. Pengaruh kegiatan pembentukan batuan beku
  7. Lingkungan pengendapan limik, paralik:
    1. Alluvial plain
    2. Upper deltaic plain
    3. Lower deltaic plain
    4. Barrier bar
    5. Offshore
  8. Topografi lingkungan pengendapan
  9. Proses transformasi vegetasi menjadi batubara
  10. Media transformasi vegetasi menjadi batubara
  11. Waktu transformasi vegetasi menjadi batubara
  12. Umur batubara setelah proses transformasi batubara

Perubahan komposisi kimia dan sifat fisik pembatubaraan

Sebagaimana diketahui bahwa batubara adalah berasal dari flora, dengan melalui proses diagenesis kondisi tertentu, transformasi awal menjadi gambut, kemudian berurutan menjadi lignit, sub-bitumen, bitumen, antrasit. Dalam prosesnya, terjadi perubahan komposisi kimia dan perubahan sifat fisik.

Perubahan sifat fisik vegetasi akibat proses diagenesis berubah menjadi batubara, yaitu karena faktor kondisi tekanan dan temperatur, waktu dan posisi kedalaman di kulit bumi. Sifat fisik ini dipengaruhi pula oleh proses kimia yang berlangsung dalam proses diagenesis.

Perubahan fisik yang ada, antara lainnya yaitu:

  • Perubahan volume, akibat pemadatan, pengeringan dan pengerasan
  • Porositas menjadi lebih kecil
  • Berat jenis bertambah
  • Warna menjadi coklat hingga hitam
  • Kekerasan permukaan bertambah
  • Daya serap cahaya berkurang, daya pantul cahaya bertambah
  • Daya tembus cahaya berkurang
  • Daya simpan energi panas bertambah, karena konsentrasi unsur karbon (C) makin tinggi.
  • Kelembaban berkurang, karena unsur hidrogrn (H) dan oksigen (O) berkurang.

Berdasarkan tingakt proses diagenesis, maka terbentuk pula tingkatan”rank” batubara, yang masing-masing dapat dibedakan ciri sifat-sifat fisiknya, yaitu sebagai berikut:

Batubara lignit,

Mempunyai “banded”, berkekar, berwarna coklat hingga kehitaman, berat jenis relatif rendah, daya serap cahaya relatif tinggi, sifat daya pantul cahaya relatif rendah mudah hancur bila dikeringkan, serta mempunyai daya simpan energi panas relatif rendah “low heating value”

Batubara sub-bitumen

Mempunyai “banded”, berwarna hitam, mempunyai kilap kusam – kilap lilin, bersifat membelah (splits) sejajar terhadap perlapisan, masih menunjukkan adanya struktur organik atau serat dan partikel organik lainnya, berat jenis relatif tinggi, sifat reflaktan terhadap cahaya relatif tinggi, daya simpan energi panas masih relatif rendah namun bersifat bersih “good clean fuel”

Batubara bitumen

Mempunyai “banded”, berwarna hitam, kilap terang “bright” seperti kaca, “well jointed”, namun padat “dense”, tidak mudah hancur, berat jenis relatif tinggi, serta daya serap energi panas tinggi.

Sumber 1 : (Rinawan Rusman, 1992, Pengantar Kuliah Geologi Batubara, Sekolah Tinggi Teknologi Mineral Indonesia, Bandung)

 

Teori Genesa Batubara

Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan Karbon atau Batu Bara) – dikenal sebagai zaman batu bara pertama – yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai ‘maturitas organik’. Proses awalnya gambut berubah menjadi lignite (batu bara muda) atau ‘brown coal (batu bara coklat)’ – Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam pekat sampai kecoklat-coklatan.

Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, batu bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas organiknya dan mengubah batu bara muda menjadi batu bara ‘sub-bitumen’. Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan warnanya lebh hitam dan membentuk ‘bitumen’ atau ‘antrasit’. Dalam kondisi yang tepat, penigkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk antrasit.

Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:

  • Alga, dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit endapan batubara dari perioda ini.
  • Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit endapan batubara dari perioda ini.
  •  Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.
  • Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin) tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.
  •  Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae sehingga, secara umum, kurang dapat terawetkan.

Tingkat perubahan yang dialami batu bara, dari gambut sampai menjadi antrasit – disebut sebagai pengarangan – memiliki hubungan yang penting dan hubungan tersebut disebut sebagai ‘tingkat mutu’ batu bara. Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan gambut.

  • Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik, mengandung antara 86% – 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.
  • Bituminus mengandung 68 – 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya. Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia.
  •  Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.
  • Lignit atau batubara coklat adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75% dari beratnya.
  • Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.

Sumber 2 : (http://achmadinblog.wordpress.com/2010/05/31/genesa-batubara/)

 

Proses pembentukan batu bara sendiri sangatlah kompleks dan membutuhkan waktu hingga berjuta-juta tahun lamanya. Batubara terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan purba yang kemudian mengendap selama berjuta-juta tahun dan mengalami proses pembatubaraan (coalification) dibawah pengaruh fisika, kimia, maupun geologi. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil. Secara ringkas ada 2 tahap proses pembatubaraan  yang terjadi, yakni:

  1. Tahap Diagenetik atau Biokimia (Penggambutan), dimulai pada saat dimana tumbuhan yang telah mati mengalami pembusukan (terdeposisi) dan menjadi humus. Humus ini kemudian diubah menjadi gambut oleh bakteri anaerobic dan fungi hingga lignit (gambut) terbentuk. Agen utama yang berperan dalam proses perubahan ini adalah kadar air, tingkat oksidasi dan gangguan biologis yang dapat menyebabkan proses pembusukan (dekomposisi) dan kompaksi material organik serta membentuk gambut.
  2. Tahap Malihan atau Geokimia, meliputi proses perubahan dari lignit menjadi bituminus dan akhirnya antrasit.

 

Secara lebih rinci, proses pembentukan batu bara dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pembusukan, bagian-bagian tumbuhan yang lunak akan diuraikan oleh bakteri anaerob.
  2. Pengendapan, tumbuhan  yang telah mengalami proses pembusukan selanjutnya akan mengalami pengendapan, biasanya di lingkungan yang berair. Akumulasi dari endapan ini dengan endapan-endapan sebelumnya akhirnya akan membentuk lapisan gambut.
  3. Dekomposisi, lapisan gambut akan mengalami perubahan melalui proses biokimia dan mengakibatkan keluarnya air dan sebagian hilangnya sebagian unsur karbon dalam bentuk karbondioksida, karbonmonoksida, dan metana. Secara relatif, unsur karbon akan bertambah dengan adanya pelepasan unsur atau senyawa tersebut.
  4. Geotektonik, lapisan gambut akan mengalami kompaksi akibat adanya gaya tektonik dan kemudian akan mengalami perlipatan dan patahan. Batubara low grade dapat berubah menjadi batubara high grade apabila gaya tektonik yang terjadi adalah gaya tektonik aktif, karena gaya tektonik aktif dapat menyebabkan terjadinya intrusi atau keluarnya magma. Selain itu, lingkungan pembentukan batubara yang berair juga dapat berubah menjadi area darat dengan adanya gaya tektonik setting tertentu.
  5. Erosi, merupakan proses pengikisan pada permukaan batubara yang telah mengalami proses geotektonik. Permukaan yang telah terkelupas akibat erosi inilah yang hingga saat ini dieksploitasi manusia.

Faktor-Faktor Dalam Pembentukan Batubara

Faktor-Faktor dalam pembentukan batubara sangat berpengaruh terhadap bentuk maupun kualitas dari lapisan batubara. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan batubara adalah :

  1. Material dasar, yakni flora atau tumbuhan yang tumbuh beberapa juta tahun yang lalu, yang kemudian terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim clan topografi tertentu. Jenis dari flora sendiri amat sangat berpengaruh terhadap tipe dari batubara yang terbentuk.
  2. Proses dekomposisi, yakni proses transformasi biokimia dari material dasar pembentuk batubara menjadi batubara. Dalam proses ini, sisa tumbuhan yang terendapkan akan mengalami perubahan baik secara fisika maupun kimia.
  3. Umur geologi, yakni skala waktu (dalam jutaan tahun) yang menyatakan berapa lama material dasar yang diendapkan mengalami transformasi. Untuk material yang diendapkan dalam skala waktu geologi yang panjang, maka proses dekomposisi yang terjadi adalah fase lanjut clan menghasilkan batubara dengan kandungan karbon yang tinggi.
  4. Posisi geotektonik, yang dapat mempengaruhi proses pembentukan suatu lapisan batubara dari :
    1. Tekanan yang dihasilkan oleh proses geotektonik dan menekan lapisan batubara yang terbentuk.
    2. Struktur dari lapisan batubara tersebut, yakni bentuk cekungan stabil, lipatan, atau patahan.
    3. Intrusi magma, yang akan mempengaruhi dan/atau merubah grade dari lapisan batubara yang dihasilkan.
    4. Lingkungan pengendapan, yakni lingkungan pada saat proses sedimentasi dari material dasar menjadi material sedimen. Lingkungan pengendapan ini sendiri dapat ditinjau dari beberapa aspek sebagai berikut:
      1. Struktur cekungan batubara, yakni posisi di mana material dasar diendapkan. Strukturnya cekungan batubara ini sangat berpengaruh pada kondisi dan posisi geotektonik.
      2. Topografi dan morfologi, yakni bentuk dan kenampakan dari tempat cekungan pengendapan material dasar. Topografi dan morfologi cekungan pada saat pengendapan sangat penting karena menentukan penyebaran rawa-rawa di mana batubara terbentuk. Topografi dan morfologi dapat dipengaruhi oleh proses geotektonik.
      3. Iklim, yang merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pembentukan batubara karena dapat mengontrol pertumbuhan flora atau tumbuhan sebelum proses pengendapan. Iklim biasanya dipengaruhi oleh kondisi topografi setempa

 

Sumber 3 : (http://logku.blogspot.com/2011/02/proses-pembentukan-batubara.html)

 

Proses pembentukan batubara dari tumbuhan melalui dua tahap, yaitu :

  1. Tahap pembentukan gambut (peat) dari tumbuhan yang disebut proses peatification

Gambut adalah batuan sediment organic yang dapat terbakar yang berasal dari tumpukan hancuran atau bagian dari tumbuhan yang terhumifikasi dan dalam keadaan tertutup udara ( dibawah air ), tidak padat, kandungan air lebih dari 75 %, dan kandungan mineral lebih kecil dari 50% dalam kondisi kering.

  1. Tahap pembentukan batubara dari gambut yang disebut proses coalification

Lapisan gambut yang terbentuk kemudian ditutupi oleh suatu lapisan sediment, maka lapisan gambut tersebut mengalami tekanan dari lapisan sediment di atasnya. Tekanan yang meningkatakan mengakibatkan peningkatan temperature. Disamping itu temperature juga akan meningkat dengan bertambahnya kedalaman, disebut gradient geotermik. Kenaikan temperature dan tekanan dapat juga disebabkan oleh aktivitas magma, proses pembentukan gunung api serta aktivitas tektonik lainnya.

Peningkatan tekanan dan temperature pada lapisan gambut akan mengkonversi gambut menjadi batubara dimana terjadi proses pengurangan kandungan air, pelepasan gas gas ( CO2, H2O, CO, CH4 ), penigkatan kepadatan dan kekerasanb serta penigkatan nilai kalor.

Sumber 4 : (http://methdimy.blogspot.com/2008/06/genesa-batubara.html)

 

KETERDAPATAN BATUBARA DI SULAWESI SELATAN

Batubara merupakan bahan galian yang tersusun dari maseral organik dan sedikit unsur anorganik. Batubara dibentuk oleh tumbuh-tumbuhan yang hidup pada lingkungan air tawar, umumnya tumbuh pada daerah tropis. Proses tumbuhan menjadi batubara melalui tingkatan : proses biokimia yaitu material tumbuhan menjadi gambut oleh bakteri anaerobik. Proses lanjutan adalah termodinamika, dimana bekerja pengaruh temperatur dan tekanan. Proses akumulasi batubara dapat tertimbun ditempat tumbuhnya (Autochtonous), dan dapat pula tertimbun setelah mengalami transportasi dan sedimentasi (Allochtonous), Bateman, 1960. Klasifikasi batubara berdasarkan tingkatannya (rank), terdiri atas : gambut, lignit, subbitumus, bituminus, dan antrasit.

Bahan galian Batubara sebagai salah satu bahan bakar pengganti minyak bumi, dimasa akan datang peranannya diharapkan makin besar di Indonesia, sebagai bahan bakar alternatif. Pemanfaatan bahan bakar batubara saat ini telah dimanfaatkan pada industri semen, pembangkit listrik, industri metalurgi, tekstil, dan pembuatan briket peruntukan energi rumah tangga.

Tak terkecuali pada provinsi Sulawesi Selatan, batubara tersingkap dan beberapa diantaranya telah dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana kondisi dan kadar batubara pada masing-masing daerah ditemukannya batubara tersebut. Berdasarkan Geologi Regional Sulawesi, (Rab. Sukamto 1982); batubara di Sulawesi Selatan dapat ditemukan pada beberapa Formasi, antara lain pada Formasi Mallawa, Formasi Walanae, Formasi Camba dan Formasi Toraja, dengan karakteristik yang berbeda-beda pada tiap formasinya. Umumnya batubara di Sulawesi Selatan termasuk batubara muda karena terbentuk pada zaman Tersier, berumur Eosen dan Neogen.

Selanjutnya berdasarkan beberapa penelitian dan penyelidikan yang telah dilakukan sebelumnya, penulis mencoba memaparkan beberapa tipikal batubara pada Formasi tersebut diatas.

  1. Formasi Mallawa (Tem) ; Formasi Mallawa terdiri atas batupasir kuarsa, batulanau, batulempung dan konglomerat, dengan sisipan dan lensa Batubara. Penyebaran batuan yang cukup luas adalah, batupasir kuarsa yang merupakan Anggota dari Formasi Mallawa. Batupasir kuarsa umumnya bersifat rapuh dan kurang kompak, berlapis tipis-laminasi. Pada batulempung dan batulanau mengandung fosil moluska, sisipan batugamping dan batubara dengan ketebalan antara beberapa centimeter sampai 1,5 meter.  Batuan dari formasi Mallawa ini diperkirakan berumur Paleosen-Eosen (Rab. Sukamto, 1982), terendapkan dalam lingkungan paralik sampai laut dangkal, dan ketebalan formasi ini tidak kurang dari 400 meter. Beberapa conto batubara Formasi Mallawa yang telah diteliti antara lain pada daerah Mallawa, Taccepa, Bontoa, dan Uludaya pada Kabupaten Maros. Endapan batubara di daerah tersebut diatas berupa lapisan dengan ketebalan bervariasi dari 1 – 6 lapisan. Ketebalan Batubara pada Formasi Mallawa berukuran antara 0,15 – 1,60 meter. Berselingan dengan lempung, batupasir, dan lanau. Ciri fisik berwarna hitam sampai hitam kecoklatan, kilap terang sampai pudar, getas, rekahan terisi lempung dan adapula pirit, umumnya memiliki pecahan konkoidal. Formasi batuan tersebut diendapkan pada lingkungan paralik hingga laut dangkal, sehingga lapisan batubaranya sebagian besar kandungan unsur belerang cukup tinggi yakni berkisar 0,96-9,85 %. Sedangkan nilai kalori berkisar antara 4.236 – 7.470 k.cal/kg dan fuel ratio 0,9 – 1,3. Batubara Formasi Mallawa tersingkap pula di Desa Gattareng, Kecamatan Marioriwawo Kabupaten Soppeng. Singkapan batubara terdiri dari 5 (lima) lapisan dengan ketebalan 0,3 – 5 meter. Dari hasil uji kualitas batubara Kabupaten Soppeng diperoleh nilai kalori 5880 – 6600 Cal/g, Zat Terbang 35 – 40 %, dan kadar belerang 1,4 – 1,8 %.
  2. Formasi Walanae (Tmpw) ; berumur Miosen Akhir – Pliosen, formasi ini menindih tidak selaras dengan batuan gunungapi formasi Camba. Formasi Walanae tersusun dari perselingan batupasir, konglomerat, tufa dengan sisipan batulanau, batulempung, batugamping, napal dan lignit, batupasir berbutir sedang sampai kasar, umumnya gampingan dan agak kompak, berkomposisi sebagian andesit dan sebagian lainnya banyak mengandung kuarsa. Tebal satuan ini diperkirakan sekitar 1.200 meter (Rab. Sukamto dan Sam Supriatna, 1982). Batubara pada formasi Walanae yang pernah diteliti antara lain pada Kabupaten Sinjai, pada daerah Panaikang dan Bulupodo. Ketebalan batubara formasi Walanae pada daerah Panaikang bervariasi dengan rata-rata 2 meter. Kondisi fisik berlapis-lapis, berselang-seling dengan lempung. Sedangkan pada daerah Bulupoddo batubaranya memiliki warna abu-abu hingga hitam, dan masih menampakkan tekstur asalnya yaitu kayu. Mempunyai cerat hitam, dengan ketebalan bervariasi antara 20 cm hingga 1,8 meter, tertutup lapisan soil setebal 1-2 meter. Batubara ini merupakan sisipan pada batupasir yang berselingan dengan batulempung hingga lanau. Melalui kehadiran struktur sedimen berupa laminasi, dan gelembur gelombang, menunjukkan genetik lingkungan pengendapan satuan batuan ini adalah laut dangkal (daerah transisi) dengan mekanisme pengendapan ‘sand bar’. Melalui hasil analisa kimia nilai Kalori batubara Walanae pada daerah Panaikang, Sinjai memiliki nilai Kalori 5.000 Cal/gr, fuel ratio (0,8-0,9) dengan kadar sulfur 2,1 – 3,5 %.
  3. Formasi Camba (Tmc) ; Batuan sedimen laut Formasi Camba terdiri atas perselingan antara batuan gunungapi, yaitu batupasir tufaan berselingan dengan tufa, batupasir, batulanau, dan batulempung. Dibeberapa tempat dijumpai sisipan napal, batugamping, dan batubara. Satuan batuan ini diperkirakan berumur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir (Rab. Sukamto,1982) dan terendapkan dalam lingkungan laut dangkal, menindih tidak selaras diatas Formasi Tonasa. Contoh batubara Formasi Camba yang telah diteliti berlokasi di Kabupaten Maros pada daerah Bengo, Kamara, Pucak, Lekopancing, S. Damak K, umumnya jenis batubara ini berwarna hitam buram, dan dijumpai adanya pengotoran dari oksida besi. Serta yang berlokasi di daerah Lembang, berwarna hitam mengkilat, dan keras, diperkirakan perubahan tersebut sebagai akibat pengaruh intrusi andesit dan basal di daerah tersebut. Hasil analisa kimia batubara Formasi Camba menunjukkan nilai kalori antara 3175 – 4270 cal/g, karbon padat 28,20 – 39,90 %, dan kadar abu 36,10 – 52,20 %.
  4. Formasi Toraja (Tet) ; Formasi batuan ini terdiri dari perselingan batupasir kuarsa, serpih, batulanau, konglomerat kuarsa dengan sisipan kuarsit, batugamping, batulempung, napal, batupasir hijau, batupasir gampingan, batupasir dan batubara. Batuan umumnya berlapis sangat tipis hingga sangat tebal, berwarna merah kecoklatan sampai ungu, dan beberapa warna kelabu kehitaman. Satuan batuan ini diperkirakan berumur Eosen Tengah – Eosen Akhir (Djuri, Sudjatmiko,1998). Beberapa contoh batubara pada Formasi Toraja, yang telah dilakukan penyelidikan sebelumnya antara lain pada daerah Sillanan, Tombang, dan Randanan pada Kabupaten Toraja. Endapan batubara Formasi Toraja, berupa lensa/lapisan tipis terdapat pada beberapa lapisan dengan ketebalan rata-rata 8,0 – 60 cm. umumnya berselang-seling dengan serpih, lempung, dan serpih napalan, ditempat lain berselingan dengan napal, batupasir, dan lanau. Kenampakan fisik umumnya lapuk, berwarna hitam, kilap pudar hingga terang, pecahan konkoidal, dan ada yang mengandung pirit. Formasi batuan tersebut umumnya terendapkan pada lingkungan antar pegunungan dalam lingkungan paralik hingga laut dangkal, sehingga lapisan batubaranya sebagian besar unsur belerangnya cukup tinggi. Batubara Formasi Toraja juga tersingkap di Kabupaten Enrekang, yakni di daerah Banti dan Batunoni. Endapan batubara berwarna hitam, kilap terang, rekahan terisi oleh gipsum dan pirit, ketebalan rata-rata 0,75 m. Nilai kalori batubara Formasi Toraja bervariasi yakni antara 3.750 Cal/g sampai 6.578 Cal/g, fuel ratio 0,8 – 2.0, dan prosentase zat belerang adalah antara 2,1 – 3,6 %. Batubara Formasi Toraja juga tersingkap di daerah Betau Kecamatan Duapitue Kabupaten Sidenreng Rappang. Kenampakan fisik batubara di beberapa tempat dijumpai tersingkap di permukaan dan sebagian besar tertutup oleh tanah penutup dan batuan pembawa yakni pasir kuarsa dan lempung. Berdasarkan penampang yang diperoleh dari hasil penggalian dijumpai sebanyak 3 lapisan, dimana lapisan pertama dan kedua merupakan lapisan tipis dengan ketebalan 2 – 5 cm, dan lapisan ketiga dengan ketebalan antara 30 – 45 cm yang merupakan batubara yang bersifat brittle, kilap terang, mengandung sedikit belerang dan gypsum. Hasil analisa kimia conto batubara di Sidenreng Rappang menunjukkan nilai kalori 5099, 47 Cal/g, kadar belerang 1,151 %, zat terbang 27,97 %.

Menurut data dari “Statistik Mineral, Batubara, Panasbumi, dan Air Tanah” tahun 2009, yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral, batubara di Sulawesi Selatan mempunyai sumberdaya batubara sebanyak 231,12 juta ton. Terdiri atas sumberdaya terindikasi sebesar 144,94 juta ton, sumberdaya tereka sebesar 33,09 juta ton, sumberdaya terukur sebesar 53,09 juta ton. Dengan cadangan terduga (probable) dan terbukti (proven) sebesar 0,06 juta ton.

Melalui hasil-hasil penelitian dan data-data tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa batubara di Sulawesi Selatan memiliki kandungan nilai kalori yang bervariasi mulai dari 3.175 sampai 7.470 cal/g.

Batubara di Sulawesi Selatan umumnya terbentuk pada lingkungan paralik hingga laut dangkal (transisi).

Berdasarkan nilai kalori dan fuel ratio batubara di Sulawesi Selatan dapat digolongkan jenis Lignit – Medium Volatile Bitumen (ASTM,1938). Hal ini menunjukkan bahwa kualitas batubara di Sulawesi Selatan memang tergolong batubara muda namun cukup menjanjikan dan berprospek cerah, mengingat kebutuhan batubara domestik yang semakin lama semakin tinggi, apalagi jika dilakukan peningkatkan kualitas dengan melakukan beberapa cara antara lain :

  1. Upgrading Brown Coal (UBC), untuk peningkatan kalori dan mengurangi kadar air / moisture untuk pembuatan briket peruntukan industri.
  2. Karbonisasi / Desulfurisasi untuk menambah kadar karbon dan mengurangi kadar sulfur.
  3. Konversi : Gasifikasi dan Pencairan (convertion Liquid Coal – high rate combustion).
  4. Pemilahan dan pencucian untuk mengurangi kadar abu yang agak tinggi.

Dengan melakukan pemanfaatan teknologi dan peningkatan kualitas batubara, maka batubara di Sulawesi Selatan dapat dimanfaatkan untuk industri manufaktur seperti pada pabrik pembuatan semen. Ataupun dimanfaatkan pada pembangkit listrik tenaga uap yang menggunakan batubara muda sehingga lebih ekonomis dalam pembiayaan. Salah satunya dengan menggunakan sistem proses pengeringan dan gasifikasi batubara (IDGCC-Integrated Drying Gasification Combine Cycle) seperti yang telah dilakukan di PLTU Berau sejak tahun 2003 yang menggunakan jenis batubara muda (lignit) sebagai pengganti BBM. Tentunya dengan memperhatikan pula aspek dan dampaknya pada lingkungan sekitar industri. Dibutuhkan peran pihak-pihak terkait mulai dari pusat hingga ke daerah agar pemanfaatan batubara daerah ini dapat dikembangkan, sehingga dapat memacu peningkatan sektor ekonomi daerah pada provinsi Sulawesi Selatan.

Sumber : (http://esdmsulsel.com/index.php?option=com_content&view=article&id=76:potensi-batubara-di-sulawesi-selatan&catid=36:sumberdaya-mineral-a-batubara&Itemid=73)

DAFTAR PUSTAKA

 

Rinawan Rusman, 1992, Pengantar Kuliah Geologi Batubara, Sekolah Tinggi Teknologi Mineral Indonesia, Bandung

http://achmadinblog.wordpress.com/2010/05/31/genesa-batubara/

http://logku.blogspot.com/2011/02/proses-pembentukan-batubara.html

http://methdimy.blogspot.com/2008/06/genesa-batubara.html

http://esdmsulsel.com/index.php?option=com_content&view=article&id=76:potensi-batubara-di-sulawesi-selatan&catid=36:sumberdaya-mineral-a-batubara&Itemid=73

Tipe-tipe Konvergen pada tektonik lempeng

a.      Konvergen lempeng benua—samudra (Oceanic—Continental)

ü  Ketika suatu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua, lempeng ini masuk ke lapisan astenosfer yang suhunya lebih tinggi, kemudian meleleh.

ü  Pada lapisan litosfer tepat di atasnya, terbentuklah deretan gunung berapi (volcanic mountain range). Sementara di dasar laut tepat di bagian terjadi penunjaman, terbentuklah parit samudra (oceanic trench).

ü  Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah salah satu pegunungan yang terbentuk dari proses ini. Pegunungan ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng Nazka dan Lempeng Amerika Selatan.

b.      Konvergen lempeng samudra—samudra (Oceanic—Oceanic)

ü  Salah satu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng samudra lainnya, menyebabkan terbentuknya parit di dasar laut, dan deretan gunung berapi yang pararel terhadap parit tersebut, juga di dasar laut.

ü  Puncak sebagian gunung berapi ini ada yang timbul sampai ke permukaan, membentuk gugusan pulau vulkanik (volcanic island chain).

ü  Pulau Aleutian di Alaska adalah salah satu contoh pulau vulkanik dari proses ini. Pulau ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika Utara.

c.       Konvergen lempeng benua—benua (Continental—Continental)

ü  Salah satu lempeng benua menunjam ke bawah lempeng benua lainnya.

ü  Karena keduanya adalah lempeng benua, materialnya tidak terlalu padat dan tidak cukup berat untuk tenggelam masuk ke astenosfer dan meleleh.

ü  Wilayah di bagian yang bertumbukan mengeras dan menebal, membentuk deretan pegunungan non vulkanik (mountain range).

ü  Pegunungan Himalaya dan Plato Tibet adalah salah satu contoh pegunungan yang terbentuk dari proses ini. Pegunungan ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia.

 

Tektonik Lempeng Indonesia

Indonesia berada di dekat batas lempeng tektonik Eurasia dan Indo-Australia. Jenis batas antara kedua lempeng ini adalah konvergen. Lempeng Indo-Australia adalah lempeng yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia.  Selain itu di bagian timur, bertemu 3 lempeng tektonik sekaligus, yaitu lempeng Philipina, Pasifik, dan Indo-Australia. Subduksi antara dua lempeng menyebabkan terbentuknya deretan gunung berapi dan parit samudra. Demikian pula subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia menyebabkan terbentuknya deretan gunung berapi yang tak lain adalah Bukit Barisan di Pulau Sumatra dan deretan gunung berapi di sepanjang Pulau Jawa, Bali dan Lombok, serta parit samudra yang tak lain adalah Parit Jawa (Sunda).

Hal ini mengakibatkan Indonesia mempunyai tatanan tektonik yang komplek dari arah zona tumbukan yaitu Fore arc, Volcanic arc dan Back arc. Fore arc merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan zona tumbukan atau sering di sebut sebagai zona aktif akibat patahan yang biasa terdapat di darat maupun di laut. Pada daerah ini material batuan penyusun utama lingkungan ini juga sangat spesifik serta mengandung potensi sumberdaya alam dari bahan tambang yang cukup besar. Volcanic arc merupakan jalur pegunungan aktif di Indonesia yang memiliki topografi khas dengan sumberdaya alam yang khas juga. Back arc merupakan bagian paling belakang dari rangkaian busur tektonik yang relatif paling stabil dengan topografi yang hampir seragam berfungsi sebagai tempat sedimentasi. Semua daerah tersebut memiliki kekhasan dan keunikan yang jarang ditemui di daerah lain, baik keanegaragaman hayatinya maupun keanekaragaman geologinya.

Lempeng tektonik terus bergerak. Suatu saat gerakannya mengalami gesekan atau benturan yang cukup keras.  Bila ini terjadi, timbullah gempa dan tsunami, dan meningkatnya kenaikan magma ke permukaan.  Jadi, tidak heran bila terjadi gempa yang bersumber dari dasar Samudra Hindia, yang seringkali diikuti dengan tsunami, aktivitas gunung berapi di sepanjang pulau Sumatra dan Jawa juga turut meningkat.

Indo-plate

Peta Tektonik dan Gunung Berapi di Indonesia. Garis biru melambangkan batas antar lempeng tektonik, dan segitiga merah melambangkan kumpulan gunung berapi.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Tektonika_lempeng

http://earlfhamfa.wordpress.com/2009/03/21/tektonik-lempeng/

http://enda1312.wordpress.com/2011/03/17/tektonik-lempeng/

http://imas94.wordpress.com/category/geografi/

http://yudi81.wordpress.com/2009/01/17/tektonik-indonesia-kondisi-dan-potensinya/

http://udhnr.blogspot.com/2009/02/lempeng-indonesia.html